Author Archives: admin admin

  • 0

JAJARAN KEMENKO KAMARITIMAN DAN INVESTASI RI, KUNJUNGI KABUPATEN SRAGEN

Category : Berita

     Jajaran pejabat dilingkungan Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Jumat / 30 April 2021, mengadakan kunjungan kerja ke Kabupaten Sragen. Rombongan berjumlah 30 orang tersebut dipimpin oleh Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kemenko Bidang Kemaritiman dan Investasi. DR. Ishak Oktovianus Manafe, SE, MM.

Rombongan diterima oleh Sekretaris Dearah Kabupaten Sragen, Drs. Tatag Prabawanto, di Ruang Citrayasa. Hadir dalam kesempatan tersebut, sejumlah pejabat dan tamu undangan dilingkungan Pemerintah Kabupaten Sragen.

     Sekretaris Daerah kabupaten Sragen, Drs. Tatag Prabawanto, mewakili Bupati Sragen, dalam sambutannya mengatakan, Pemerintah Kabupaten Sragen, mengucapkan selamat datang dan terima kasih atas kunjungan jajaran pejabat dari Kemenko Kemaritiman dan Investasi. Sekda mengatakan Reformasi birokrasi di Kabupaten Sragen, telah dilaksanakan sekitar 15 tahun lalu, yang diawali dengan pembentukan Unit Pelayanan Terpadu ( UPT ). Konsep pembentukan UPT saat itu, kata Sekda, adalah mengubah pelayanan publik yang semula tersebar di berbagai Dinas / kantor, menjadi pelayanan satu pintu di Unit Pelayanan Terpadu (UPT).

     Menurut Sekda, reformasi birokrasi di lingkungan Pemerintah Kabupaten Sragen, terus dilaksanakan sampai saat ini. Berbagai inovasi di ciptakan tidak hanya di tataran tingkat pemerintah Kabupaten saja, namun juga sampai tingkat Pemerintah Desa. Sekda menambahkan, Jajaran Pemerintahan Desa di kabupaten Sragen, mulai tahun 2020 telah melaksanakan sistem cash managemen non tunai. Dijelaskan Sekda, kebijakan cash managemen tunai ditingkat pemerintahan Desa tersebut, merupakan terobosan yang belum banyak dilaksanakan Pemerintah Kabupaten lain di Indonesia. “ Merupakan kebanggaan tersendiri bagi kami, menjadi salah satu daerah, yang telah melaksanakan reformasi birokrasi “ tambah Sekda.
Sementara, Sekretaris Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, DR. Ishak Oktovianus Manafe, SE, MM, selaku pimpinan rombongan, dalam sambutannya mengatakan tujuan dilaksanakannya kunjungan ke kabupaten Sragen tersebut adalah dalam rangka diskusi dan benchmarking terkait pelaksaaan Reformasi Birokrasi dan Zona Integritas dilingkungan Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, khususnya Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi. Menurut Dr. Ishak, Reformasi Birokrasi di lingkungan Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi sudah diawali sejak Tahun 2019. Pada awal pelaksanaan reformasi birokrasi tersebut, pihaknya juga merasa tertatih- tatih. Dari tahun ke tahun seluruh jajaran Kemenko Kemaritiman dan Investasi selalu berupaya serta bertekad untuk memperbaiki capaian berusaha, hingga tahun 2021 ini.

     Terkait pelaksanaan Reformasi birokrasi tersebut, Sekretaris Deputi mengatakan, pihaknya selalu belajar bersama dengan daerah-daerah yang punya kelebihan, termasuk di kabupaten Sragen ini. Dalam kesempatan kunjungan ke Kabupaten Sragen tersebut, pihaknya ingin melihat pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Kabupaten Sragen, khususnya implementasi nyata di Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) yang melaksanakan tugas pelayanan publik.“ Nilai nilai yang kami lihat di Kabupaten Sragen ini, selanjutnya akan kami adopsi dalam rangka reformasi birokrasi di jajaran Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi” kata Sekretaris Deputi. “ Di Lingkungan Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi terdapat 7 lembaga teknis, hasil kunjungan ke Kabupaten Sragen ini selanjutnya akan kami sampaikan kepada mereka “ tambahnya.

     Sementara Kepala Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu satu Pintu, Kabupaten Sragen, Tugiyono, SH, ketika menyampaikan pemaparan, menjelaskan pelaksanaan Reformasi Birokrasi di Kabupaten Sragen diawali dengan pembentukan Unit Pelayanan Terpadu (UPT). Keberadaan UPT sampai saat ini telah mengalami beberapa kali perubahan kelembagaan, mulai dari Badan Pelayanan Terpadu (BPT), kemudian menjadi Badan Pelayanan Terpadu dan Penanaman Modal (BPTPM), selanjutnya saat ini menjadi Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP).
Acara kunjungan kerja pengelolaan reformasi birokrasi dari Deputi Bidang Koordinasi Kedaulatan Maritim dan Energi, Kementrian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ke Kabupaten Sragen ditandai dengan saling tukar cindera mata dan foto bersama. Selesai penerimaan di Ruang Citrayasa, acara dilanjutkan dengan kunjungan lapangan untuk melihat pelayanan publik di DPMPTSP Kabupaten Sragen. (Ipp)

 


  • 0

YENY KUSUMAWATI, KARTINI MILENIAL DARI GEBANG MASARAN

Category : Berita

Sosoknya lembut dan anggun. Namun dibalik kelembutan dan keanggunannnya tersimpan keberanian, ulet, gigih, serta pantang menyerah. Itulah sosok Yeni Kusumawati, seorang wanita pengusaha asal  Ngasem RT 30 Desa Gebang, Kec. Masaran, Kab. Sragen. Keberanian dan keuletan ibu muda tersebut,  terlihat dari bidang usaha yang ditekuni yaitu suplier / pemasok kayu sengon gelondongan, bidang usaha yang lazim ditekuni kaum pria.

Menurut Yeny, ia merintis usaha  bidang perkayuan sejak tahun 2011, selepas lulus dari SMA. Awalnya ia diajak bergabung oleh salah satu rekannya yang terlebih dulu menekuni dunia perkayuan. Selama beberapa tahun Yeny bekerjasama  dengan perusahaan milik salah satu rekannya tersebut. Setelah melalui beberapa pertimbangan, Yeny memutuskan untuk menjalankan usaha tersendiri dengan mendirikan  perusahaan  UD. Berkah Albazia.

Dibawah bendera UD Berkah Albazia, Yeny menjalankan usaha sebagai suplier kayu sengon. Ia membeli kayu sengon dalam bentuk gelondongan selanjutnya menyetorkan kayu sengon tersebut ke perusahaan pengolahan kayu didaerah Dagen

Kabupaten Karanganyar.  Menurut alumnus Jurusan Akuntasi Universitas Tunas Pembangunan (UTP) Surakarta tersebut, untuk mendapatkan Sengon berkualitas tinggi, ia berburu ke berbagai daerah di Jawa Timur, seperti  Gresik, Trenggalek, Tulungagung, Blitar, Jember, Banyuwangi hingga daerah-daerah  di pulau Bali.

Menurut Yeny, agar usahanya tetap eksis, ia harus rajin berkelana keberbagai daerah untuk mendapatkan kayu sengon. Oleh perusahaan mitra kerjanya, ia  ditarget harus memasok kayu sengon gelondongan minimun  250 m3 per minggu, sehingga dalam satu bulan harus bisa mendapatkan 1000 m3 kayu sengon gelondongan. Untuk mengejar target tersebut, tak jarang Yeny harus menyetir mobil sendiri menembus kebun dan  hutan belantara di berbagai daerah, untuk mendapatkan barang dagangan. Meski ditakdirkan sebagai  wanita, Yenny tidak  merasa risih menekuni bidang usaha bidang perkayuan, yang biasanya ditekuni kaum pria.

Untuk melegalkan usahanya, Yenny telah melengkapi dengan izin yang diperlukan. Kepada Tim Pengawasan dan Pembinaan DPMPTSP Kabupaten Sragen yang menemui di tempat tinggalnya Yeni mengaku membuat izin usaha melalui aplikasi OSS secara online. Menurutnya dengan aplikasi OSS tersebut sangat membantu bagi para pengusaha untuk mengurus perizinan usaha yang diperlukan.(Nn / IPP)


  • 0

Mbah Kusno, Pengusaha Iles-iles dari Pilangsari, Gesi

Category : Berita

Usia tua tak menghalangi untuk tetap berkarya dan berinovasi. Itulah yang dilakukan Kusno, warga Dukuh Munggur, RT 17 Pilangsari, Gesi. Diusia menjelang 70 tahun,kakek yang tetap sehat tersebut masih memiliki kepedulian untuk mengangkat perekonomian warga di sekitarnya. Berbekal informasi yang diperoleh dari saudaranya yang tinggal di Purwodadi mbah Kusno menjadi pengepul  iles-iles yang banyak tumbuh di hutan-hutan diwilayah Gesi.

Iles-iles adalah umbi-umbian sejenis dengan tumbuhan keladi/talas, suweg, walur dan porang, namun memiliki karakter pohon dan umbi yang berbeda. Tumbuhan ini hanya memiliki batang tunggal, berwarna hijau tua kehitaman dengan bercak putih dan berbatang halus. Iles-iles merupakan tanaman liar  yang tumbuh di hutan, pegunungan, perbukitan, perkebunan,tepian sungai dan jurang jurang, sehingga banyak ditemukan di desa Pilangsari, Kec. Gesi.

Menurut penuturan mbah Kusno, awal mula ia menjadi pengepul iles-iles karena melihat banyak warga sekitar tempat tinggalnya yang menganggur dan tidak punya tambahan penghasilan. Disisi lain ia melihat di wilayah Gesi banyak tumbuh tanaman iles-iles yang dapat dimanfaatkan serta mempunyai nilai ekonomis. Dari pemikiran itu, mbah Kusno kemudian menampung iles-iles dari para  warga sekitarnya. Menurut mbah Kusno, iles-iles yang ia terima dalam keadaan basah, kemudian diolah agar menjadi kering. Caranya dengan mengiris iles-les tersebut setebal kurang lebih 10 mm. Potongan iles-iles tersebut selanjutnya dikeringkan dengan menjemur dibawah terik matahari. Lamanya pengeringan sekitar 7 hari, tergantung cuaca /panas mataharinya.

Mbah Kusno membeli iles-iles dari warga seharga Rp. 1.100,- per kg nya. Setelah kering ia menjual seharga Rp. 12.000,- per kgnya. Kendala dalam proses pengeringan iles-iles adalah sifatnya yang tidak tahan air. Sekali kena air, iles-iles yang sudah setengah kering, bisa hancur menjadi semacam bubur, sehingga tidak dapat dimanfaatkan lagi. Untuk itu ia harus extra hati-hati dalam penjemuran iles-iles. Apabila cuaca sedikit mendung, iles-iles yang dijemur dihalaman rumahnya segera dimasukkan kedalam rumah.

Usaha pengepul dan pengeringan iles-iles baru ditekuni mbah Kusno dalam dua tahun terakhir ini. Meskipun baru berjalan dua tahun, telah banyak membantu masyarakat disekitarnya untuk meningkatkan perekonomiannya. Berapapun iles-iles yang disetorkan warga, pasti  ia terima, karena permintaan iles-iles kering masih sangat banyak. Untuk mendukung usahanya mbah Kusno dibantu 7 (Tuju) orang pekerja, yang tergabung dalam Paguyuban Iles-iles.  Menurut mbah Kusno, iles-iles yang telah kering tersebut, selanjutnya ia setorkan kepada perusahaan di wilayah Purwodadi, untuk diolah menjadi tepung. Namun mbah Kusno, kurang tahu pasti, kegunaan tepung berbahan iles-iles tersebut.

Ketika ditemui Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan DPMPTSP Kabupaten  Sragen, beberapa waktu lalu  mbah Kusno mengakui, usaha yang ia tekuni memang belum memiliki izin usaha. Karena ia memang belum tahu bagaimana tata cara mencari izin usaha tersebut.  Setelah mendapat penjelasan dari Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan, tentang prosedur mendapatkan izin usaha serta manfaat yang diperoleh dengan memiliki izin usaha, mbah Kusno berjanji untuk segera mengurus izin usahanya. (Ipp)


  • 0

GRIYA MODIZA,  USAHA  KONVEKSI  YANG TAK GOYAH DI MASA PANDEMI

Category : Berita

Pandemi Covid 19 yang belum dapat diprediksi  kapan berakhirnya, merupakan musibah bagi kebanyakan pelaku usaha di tanah air.  Namun bagi para pelaku usaha yang mampu memanfaatkan peluang, pandemi Covid 19 ini, justru menjadi sebuah berkah. Salah satu pelaku usaha di Kabupaten Sragen, yang tetap eksis , bahkan mampu mengembangkan usahanya ditengah pandemi Covid 19, saat ini, adalah Griya Modiza. Unit usaha konveksi yang berlokasi di Purwosari RT 04 RW 02, Desa Jurang Jero Kecamatan Karangmalang ini justru kebanjiran order dimasa pandemi Covid 19 ini. Semua itu berkat kejelian, Jarwanti, pemilik usaha Griya Modiza dalam melihat peluang usaha.

Menurut penuturan Jarwanti, Griya Modiza, memulai usaha sekitar tiga tahun yang lalu. Semula ia memproduksi berbagai macam pakaian jadi, khususnya pakaian wanita. Memasuki awal tahun 2020, dampak Pandemi Covid mulai  terasa, ditandai  dengan anjlognya order yang ia terima. Menyikapi hal tersebut, agar usahanya tidak semakin terpuruk, Jarwanti yang  dibantu putrinya, Ferri, melakukan pengembangan usaha, yaitu dengan memproduksi masker, yang  di masa Pandemi Covid ini, wajib dipakai semua orang untuk memutus rantai penularan Covid 19.  Saat ini, masker produksi Griya Modiza, yang diberi merk Modiza, sudah sangat dikenal oleh masyarakat, tidak hanya di wilayah Kabupaten Sragen dan sekitarnya , namun juga diseluruh wilayah Indonesia. Masker Modiza merupakan masker kelas premium, yang dibuat dari bahan berkualitas dan memiliki model yang unik dan lain dari masker kebanyakan. Menurut Jarwanti, Griya Modiza mampu memproduksi  masker sebanyak 2000 eksemplar perminggu. Untuk melaksanakan  produksinya, ia mempekerjakan 15 orang penjahit. Untuk pemasaran, dilakukan secara online maupun pemasaran secara langsung. Untuk pemasaran secara online, Griya Modiza bekerjasama dengan beberapa toko online terkemuka ditanah air seperti Shoope dan Buka Lapak. Melalui dua toko Online terkemuka tersebut, orderan masker datang dari berbagai penjuru tanah air. Selain itu, Jarwanti juga memasarkan masker Modiza, secara langsung kepada para konsumen melalui para reseller.  Ketika ditemui Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan DPMPTSP Kabupaten Sragen,  Jarwanti, mengatakan untuk melegalkan usahanya, ia telah mengurus izin usaha versi lama ( SIUP dan TDP). Karena saat ini untuk penerbitan izin usaha, harus melalui Lembaga OSS ( Online Single Submision ), Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan DPMPTSP menyarankan agar Griya Modiza memperbaharui izin melalui Aplikasi OSS.  “ Membuat  izin usaha  melalui aplikasi OSS dapat dilakukan dirumah, namun bila menemui kesulitan silahkan datang ke DPMPTSP Sragen, petugas kami siap mendampingi “ jelas Aniek Windarsih, Kabid Informasi, Pengawasan dan Pengaduan DPMPTSP Sragen. (Ipp)


  • 0

TIM PENANGANAN PENGADUAN  DPMPTSP GELAR PERTEMUAN DENGAN WARGA DESA NGANDUL

Category : Berita

          Respons cepat  ditunjukkan DPMPTSP  Kabupaten Sragen, terhadap berbagai permasalahan perizinan   yang muncul di Kabupaten Sragen. Tak terkecuali keberadaan tower / menara di RT 12 Desa Ngandul Kecamatan Sumberlawang yang sempat menimbulkan  permasalahan bagi warga setempat. Rabu 12 / 8/2020, Tim Penanganan  Pengaduan DPMPTSP berkunjung ke lokasi  menara di Desa Ngandul Kecamatan Sumberlawang untuk berdialog dengan warga RT 12 terkait permasalahan yang mereka hadapi  akibat keberadaan tower dilingkungan tempat tinggalnya.

          Tim Pengaduan DPMPTSP yang dipimpin oleh Kabid Informasi, Pengawasan dan Pengaduan, Anik Windarsih, SH, MM tersebut,  melibatkan beberapa OPD terkait, seperti Satpol PP, Dinas Lingkungan Hidup, Dinas Kominfo serta Kecamatan Sumberlawang. Pertemuan dan dialog dilaksanakan dirumah ketua RT setempat., dihadiri Kepala Desa Ngandul Supriyanto,  serta sejumlah warga RT 12 Desa Ngandul.  Menurut Ketua RT 12 desa Ngandul, Darwito, keberadaan menara telekomunikasi dilingkungan RT 12 Desa Ngandul sudah berlangsung selama 10 tahun, sehingga sudah habis masa kontraknya pada pertengahan tahun 2020 ini. Namun pihak pengelola tower telah memperpanjang kontrak dengan pemilik lahan tanpa sepengetahun dan  persetujuan dari seluruh warga disekitar tower. Hal itu menimbulkan kegaduhan diantara warga RT 12,  karena ada warga yang tidak setuju dengan keberadaan tower tersebut. Terkait dengan perpanjangan sewa kontrak menara telekomunikasi dimaksud, warga juga menuntut kompensasi dari pengelola menara.

        Menanggapi keluhan ketua RT 12 tersebut, Kabid IPP DPMPTSP Kab. Sragen, Anik Windarsih mengatakan kedatangan Tim Penanganan Pengaduan DPMPTSP Kab. Sragen ke Desa Ngandul, khususnya di RT 12 tersebut adalah untuk membantu warga mencari solusi terbaik terkait keberadaan tower di lingkungan RT 12 yang sempat menimbulkan permasalahan bagi warga sekitar. Menurut Anik Windarsih sebenarnya permasalahan yang muncul akibat keberadaan tower tersebut  diluar kewenangan Pemerintah Kabupaten. Namun Pemerintah Kabupaten Sragen melalui Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu punya kewajiban untuk membantu menyelesaikan setiap permasalahan perizinan, agar tercipta kondusivitas diseluruh wilayah Kabupaten Sragen. “ Dengan terpeliharanya kondisivitas wilayah, akan membantu kelancaran   pelaksanaan pembangunan secara keseluruhan di kabupaten Sragen”, kata Anik Windarsih.

        Sementara Kasie Pengaduan  Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu Kabupaten Sragen, Haryono SH mengatakan, terkait dengan perpanjangan kontrak tower telekomunikasi, saat ini sudah diatur dengan  peraturan terbaru yaitu SKB Tiga Menteri tahun 2019. Berdasarkan SKB Tiga Menteri tersebut, untuk perpanjangan kontrak tower telekomunikasi tidak diperlukan lagi izin gangguan / HO serta persetujuan dari warga. “ Yang diperlukan hanya Izin Mendirikan Bangunan (IMB), yang sudah dilengkapi pada waktu awal mendirikan bangunan tower. IMB tersebut berlaku tanpa batas waktu, sepanjang tidak ada perubahan struktur dan kontruksi menara “ kata Haryono. Keberadaan tower di RT 12 desa Ngandul, menurut Haryono, sudah memiliki legalitas dan sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, sehingga tidak ada alasan apapun untuk menolak keberadaan tower tersebut.

         Terkait kompensasi yang dituntut warga, menurut Haryono, memang tidak ada peraturan yang mengharuskan pengelola tower memberikan kompensasi bagi warga sekitar. Namun pengelola tower punya kewajiban memberikan CSR atau Corporate Social Responbility, kepada warga disekitar lokasi tower, agar keberadaan tower juga dirasakan manfaatnya bagi masyarakat sekitar. “ CSR dari perusahaan diberikan dalam berbagai bentuk seperti fasilitas umum, dukungan kegiatan ataupun dana segar, yang besarnya disesuaikan dengan kemampuan perusahaan “ jelasnya.

            Haryono berharap seluruh warga dapat memahami keberadaan tower tersebut, karena secara hukum,  sudah sah dan legal,  sesuai peraturan peundangan yang berlaku.  Disamping itu   secara riil tower telekomunikasi sangat besar manfaatnya bagi ribuan masyarakat, untuk memperlancar komunikasi. Terlebih di era globalisasi saat ini, sangat dibutuhkan komunikasi yang cepat dan tepat. Pihaknya berjanji akan membantu mediasi dengan pengelola tower agar tercapai kesepakatan yang saling menguntungkan kedua pihak. “ Yang penting warga jangan anarkis, karena kalau sampai anarkis akan berhadapan dengan aparat penegak hukum, yang justru akan merugikan warga sendiri “ kata Haryono.

           Dialog sempat memanas, karena ada salah satu warga yang tetap ngotot agar tower di RT  12 dibongkar karena dianggap  merugikan dan tidak bermanfaat bagi warga. Namun dengan penjelasan yang rinci dan detail dari Tim Penanganan Pengaduan DPMPTSP Kab. Sragen, seluruh warga akhirnya dapat memahami dan menerima keberadaan tower di lingkungan RT12. Selanjutnya warga meminta agar segera dijadwalkan pertemuan dan  mediasi dengan pihak pengelola tower. ( IPP)


  • 0

DPMPTSP LEPAS DUA KARYAWAN YANG PURNA TUGAS

Category : Berita

Bertempat di ruang pertemuan DPMPTSP Kab. Sragen, Rabu , 22/7/2020 dilaksanakan acara pelepasan terhadap dua orang karyawan DPMPTSP yang memasuki masa purna tugas. Acara yang berlangsung dengan sederhana dan penuh kekeluaraan tersebut dihadiri oleh Kepala DPMPTSP Kabupaten Sragen, Tugiyono SH, Seketaris DPMPTSP Suharti, para Kabid serta segenap karyawan dan karyawati DPMPTSP Kabupaten Sragen.
Dua orang karyawan yang memasuki masa purna tugas tersebut adalah Sukamto dan Warsono. Sukamto memasuki masa purna tugas per 1 Juni 2020, sedang Warsono memasuki masa purna tugas per 1 Agustus 2020.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Sragen, Tugiyono SH dalam sambutan pengarahannya mengatakan masa pensiun adalah proses alami yang pasti akan terjadi pada setiap PNS. Untuk itu Tugiyono meminta kepada seluruh PNS, baik yang sudah mendekati masa purna maupun yang masih lama masa kerjanya, untuk senantiasa mempersiapkan mental, menghadapai masa pensiun nanti.
Kepada dua orang karyawan yang memasuki masa purna tugas, Tugiyono mengucapkan banyak terima kasih atas semua pengabdian dan dedikasinya, selama bertugas di DPMPTSP. “ Pak Kamto dan Pak Warsono adalah dua orang karyawan yang menjadi saksi sejarah keberadaan DPMPTSP sejak awal berdiri sampai sekarang “ kata Tugiyono. “Beliau berdua ini yang melakukan babad alas dan berjuang membesarkan kantor ini, sejak masih bernama UPT, BPT, BPTPM dan sekarang menjadi DPMPTSP” tambahnya.
Selanjutnya Tugiyono berpesan agar selalu mejaga kesehatan diantaranya dengan rutin melakukan olahraga. “ Olah raga apapun bisa dilakukan, karena itu sangat penting untuk menjaga kebugaran dan kesehatan “ kata mantan Kepala Bappeda Kabupaten Sragen tersebut. Tugiyono juga meminta agar selalu meningkatkan ibadah sesuai agama msing-masing, karena melalui ibadah akan mendekatkan kita pada sang Pencipta. “ Dan yang tak kalah penting adalah tekuni hoby, apapun hoby kita, harus tetap ditekuni meskipun kita sudah purna tugas, syukur-syukur dari hoby bisa mendatangkan rezeki, tambah kolektor Aglonema tersebut.
Sementara, Sukamto dalam kata-kata pamitannya mengucapkan banyak terimakasih kapada seluruh karyawan-karyawati DPMPTSP atas bimbingan, bantuan serta kerjasamanya selama 18 tahun bertugas di DPMPTSP. Sukamto juga meminta maaf bila selama melaksanakan tugas tugas kedinasan di DPMPTSP ada kesalahan, kekhilafan, ataupun dosa baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja.
Senada dengan Sukamto, Warsono juga mengucapkan terimakasih serta meminta maaf kepada segenap jajaran karyawan-karyawati DPMPTSP. Meskipun nanti sudah pensiun, Warsono berharap silaturahmi dengan keluarga besar DPMPTSP tetap terjalain. “ Kalau Bapak / Ibu ada yang punya keperluan atau punya hajat apapun, saya nyuwun tulung dikabari, agar silaturahmi diantara kita tetap terjalin “ kata Warsono.
Acara Pelepasan karyawan yang memasuki masa purna tugas ditandai dengan penyerahan cendera mata kepada pak Kamto dan pak Warsono, yang diserahkan oleh Kepala DPMPTSP, Tugiyono serta para Kepala Bidang. (IPP)


  • 0

Konveksi “ BATIK NAYLA” Tetap Berjaya, Meski Badai Covid-19 Menerpa

Category : Berita

Ditengah Pandemi Covid 19 saat ini, banyak pengusaha, baik pengusaha besar, menengah, maupun kecil yang gulung tikar, serta melakukan PHK kepada para karyawannya. Namun hal itu tidak berlaku bagi Jumanto, seorang pengusaha konveksi dari Dukuh Wahyu RT 04 Desa Blangu Keamatan Gesi. Pandemi Covid yang sempat menghancurkan sektor perekonomian dunia tersebut, tidak menyurutkan geliat usahanaya. Terbukti, Ia masih mampu mempekerjakan sekitar 100 orang karyawan, karena kapasitas produksi usahanya tidak mengalami penurunan bahkan justru meningkat.
Ketika ditemui Tim Pembinaan dan Pengawasan PerIzinan DPMPTSP Kabupaten Sragen, beberapa waktu lalu, Jumanto mengisahkan, ia memang sempat jatuh bangun dalam menjalankan usaha bisnisnya. Pada awalnya Jumanto sempat berjualan ayam goreng di pasar Nglangon Sragen, Usahanya tersebut tidak membuahkan hasil, sehingga ia merantau ke kota Surabaya. Di kota Pahlawan tersebut, Jumanto juga menemui kegagalan.
Kemudian ia merantau ke ibukota tepatnya di Pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat. Di pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara tersebut, Jumanto menjadi penjahit pakaian. Sebagai penjahit, pria berusia 32 tahun itu, banyak berkenalan dengan para pengusaha konveksi besar di Pasar Tanah Abang. Setelah memperoleh pengalaman sebagai penjahit pakaian di Tanah Abang, muncul pemikiran Jumanto untuk pulang kampung dan membuka usaha di kampung halaman.
Berbekal pengalaman di Pasar Tanah Abang tersebut, Jumanto akhirnya pulang kampung dan merintis usaha dengan mendirikan konveksi “ Batik Nayla “. Semula ia membuka usaha konveksi di wilayah kecamatan Plupuh, namun kurang berhasil, kemudian memindahkan ke desa Blangu Kecamatan Gesi. Pemindahan ke Gesi tersebut, untuk mendekatkan dengan para karyawannya yang memang kebanyakan berasal dari wilayah Gesi dan sekitarnya. Nampaknya di wilayah Gesi inilah, Bapak dua anak ini memperoleh keberuntungan. Usaha konveksinya semakin maju pesat, orderan demi orderan ia peroleh, kebanyakan dari rekanan bisnisnya, para pengusaha pakaian jadi dari Jakarta.
Karena kapasitas produksi yang makin meningkat, Jumanto membuka cabang di wilayah Kecamatan Tangen, tepatnya disebelah alun-alun Tangen. Untuk pengembangan usaha, Jumanto berencana membuka cabang lagi di wilayah Balong, Jenawi. Konveksi “Batik Nayla” memproduksi pakaian batik baik pria maupun wanita, daster, seragam sekolah, seragam kerja, tas kain dll. Menurut pengakuan Jumanto, kunci sukses usahanya adalah pantang menyerah, meskipun berbagai kegagalan telah ia temui, dengan keuletan, kegigihan dan pantang menyerah akhirnya dapat menemui kesusksesan.
Untuk legalitas uahanya, Jumanto telah mengurus izin usaha yaitu SIUP TDP yang terbit bulan Pebruari tahun 2019, sehingga belum melalui aplikasi OSS. Untuk itu Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan DPMPTP Kabupaten Sragen, menyarankan untuk memperbaharui izin usaha melalui OSS agar memperoleh NIB ( Nomer Induk Berusaha ). “ Silahkan datang ke kantor, petugas kami siap mendampingi untuk memperbaharui izin usaha melalui aplikasi OSS “ kata Anik Windarsih, Kabid Informasi, Pengawasan dan Pengaduan DPMPTSP Kabupaten Sragen. (IPP)


  • 0

Tukang Insiyur yang Jadi Pengusaha Jamur

Category : Berita

Seorang sarjana lulusan Perguruan Tinggi, tidak harus bekerja di sebuah kantor, instansi pemerintah ataupun perusahaan, Tapi seorang sarjana, dengan ilmu yang diperolehnya selama kuliah, justru dituntut untuk dapat menciptakan lapangan kerja sendiri, yang dapat bermanfaat bagi dirinya sendiri maupun lingkungannya. Pemikiran tersebut menjadi latar belakang bagi Sutopo Jati Santosa , seorang pemuda asal dukuh Blantikan RT 15/06 desa Bener, Kecamatan Ngrampal, Kabupaten Sragen.
Menurut Jati, panggilan sehari-hari Sutopo Jati Santosa, ketika lulus kuliah tahun 2015 silam,ia memang sempat melamar pekerjaan di beberapa kantor dan perusahaan, namun belum berhasil memperoleh pekerjaan sesuai keinginannya. Dari kegagalan tersebut, muncul pemikiran mengapa tidak menciptakan lapangan pekerjaan sendiri dengan memanfaatkan potensi yang ada disekitarnya, dan berbekal ilmu yang ditimbanya dari bangku kuliah.
Sejak itulah Jati mulai merintis usaha dengan memanfaatkan potensi pertanian yang ada disekitarnya yaitu budidaya jamur. Ada dua jenis jamur yang ia budidayakan yaitu jamur tiram dan jamur kuping. Untuk Jamur tiram , alumnus Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta tersebut, juga langsung mengolahnya menjadi makanan siap konsumsi, yaitu jamur Crispy. Hasil olahan jamur tiram , yang diberi merk Jamur Krispi “Japri” tersebut kini sudah banyak ditemui diberbagai toko oleh-oleh di Sragen dan sekitarnaya. Sedang Untuk jamur kuping, dipasarkan dalam bentuk mentah kering,
Selain budidaaya jamur, lajang kelahiran tahun 1991 tersebut juga melakukan budidaya tanaman Porang, yaitu jenis tanaman umbi-umbian yang saat ini sangat populer di masyarakat. Menurut Jati, umbi Porang banyak sekali manfaatnya seperti untuk bahan baku tepung, kosmetik , jelly dsb. Saat ini permintaan Porang sangat tinggi, karena Porang merupakan bahan komoditi eksport ke berbagai negara seperti Jepang, China, Vietnam dll. “ Untuk pemasarannya tidaklah sulit, karena sudah ada pengepul yang akan mengambilnya bila tanaman porang saya sudah panen “ kata bungsu dari tiga bersaudara tersebut.
Sebagai warga negara yang baik, Jati tak lupa mengurus izin usahanya. Untuk legalitas usaha, ia sudah memiliki Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) serta Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga [SPPIRT). “ Untuk mengurus izin usaha, kini sangat mudah, cepat serta tidak berbelit-belit “ kata Jati ketika menerima Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan DPMPTSP Kabupaten Sragen, Selasa, 14 /7/2020. (IPP)


  • 0

Nyarmiasih, Pengusaha Nata De Coco dari Pondok Kecamatan Sambirejo

Category : Berita

“ DENGAN BERIZIN, USAHA MAKIN LANCAR “

Menjadi seorang pengusaha harus jeli memanfaatkan setiap peluang dan potensi. “Semangat” yang menjadi awal bagi Nyarmiasih dalam memulai dan mengelola usahanya. Berawal dari memanfaatkan air kelapa yang diperoleh dari sekitar rumahnya, kini Nyarmiasih telah menjadi pengusaha  nata de coco yang cukup besar kapasitas produksinya. Menurut pengakuan warga Dukuh Pondok Desa Sambirejo Kecamatan Sambirejo tersebut, setiap hari ia membutuhkan 12 jirigen besar (kurang lebih 300 Liter) air kelapa sebagai bahan baku pembuatan nata de coco. Air Kelapa sebanyak itu tentunya tidak bisa diperoleh di sekitar rumahnya, namun dibeli dari berbagai pasar seperti pasar di Ngrambe atau pasar di Gondang.

Nyamiarsih mengatakan untuk proses produksi nata de coco,  memerlukan waktu 10 hari mulai perebusan air kelapa, pemberian starter, proses fermentasi sampai jadi nata de coco yang siap konsumsi. “ Untuk pembuatan starter, bahan yang diperlukan adalah gula, cuka dan amonium sulfat” terangnya.  Menurut   Nyarmiasih, usaha nata de coco yang ia geluti hanya sampai proses produksi saja. Sedang proses pemotongan, pengemasan dan pemasarannya diserahkan pada pengusaha lain, yang kebetulan masih saudaranya.

Sebagai seorang pengusaha, Nyarmiasih sangat mengerti akan pentingnya perizinan untuk kepentingan usahanya. Untuk itu ia telah melengkapi usahanya dengan berbagai izin yang diperlukan seperti Surat Izin Usaha Mikro dan Kecil yang dikeluarkan oleh Kecamatan Sambirejo dan telah mengajukan Izin Produk Industri Rumah Tangga yang saat ini masih dalam proses. “Dengan dilengkapi surat-surat izin usaha ini saya menjadi lebih tenang dalam menjalankan usaha sehingga usaha saya juga makin lancar“ kata Nyarmiasih ketika menerima Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinan dan Nonperizinan DPMPTSP Kabupaten Sragen, Senin, 24/2/2020. Tim menganjurkan untuk segera memperbarui izin melalui OSS (Online Single Submission) berupa NIB (Nomor Induk Berusaha), IUMK (Izin Usaha Mikro Kecil) , dan SPPIRT (Sertifikat Produksi Pangan Industri Rumah Tangga). (IPP)


  • 0

DARI TEGALREJO TEMBUS TAIWAN DAN BRUNEI DARUSSALAM

Category : Berita

Rumahnya cukup sederhana terletak di sebuah  jalan desa yang jauh dari keramaian. Namun, siapa sangka dari rumah yang dari luar tidak nampak sebagai tempat usaha tersebut, mampu memproduksi pakaian jadi yang telah menembus pasar di berbagai negara seperti Taiwan,  Brunedi Darussalam dan Timor Leste. Pemilik usaha tersebut adalah Sigit Riyanto, warga Dukuh Gombelan RT 12 Desa Tegalrejo Kecamatan Gondang.

Memasuki ruang utama rumah tersebut, nampak belasan karyawan sedang sibuk menjahit bahan pakaian dan seragam pesanan. Sementara di sudut ruangan nampak seragam dan gaun wanita yang sudah jadi. Seragam dari salah satu sekolah di Timor Leste sudah dikemas dalam plastik. Selain memproduksi pakaian jadi, Sigit juga memiliki unit usaha bordir dengan teknologi komputer. Satu set mesin bordir berteknologi komputer untuk  melengkapi usahanya, yang ditempatkan di sebuah ruangan di samping ruang utama.

Menurut pengakuan Sigit, semula ia hanya seorang penjahit biasa dan masih ikut pada pengusaha konveksi lain. Namun berkat ketekunan dan keuletannya ia telah memiliki usaha konveksi dan bordir sendiri yang diberi nama “SGT Bordir Komputer dan Konveksi“. Untuk pesanan pakaian jadi, ia peroleh dari para  rekanan bisnisnya. Menurut Sigit, pakaian jadi hasil produksinya memang mayoritas untuk komoditi ekspor ke berbagai manca negara. Meski demikian ia juga melayani untuk pemasaran lokal, kalau ada permintaan. “Order yang rutin  saya terima adalah  pembuatan seragam salah satu sekolah di negara Timor Leste“ kata Sigit sambil menunjukkan tumpukan pakaian seragam sekolah Timor Leste yang siap dikirim. Sedang  unit bordirnya, kebanyakan untuk memproduksi atribut seragam sekolah, PNS, TNI/Polri, dan sebagainya.

Sebagai pengusaha yang sedang mengembangkan usahanya, Sigit Riyanto telah melengkapi usahanya dengan izin-izin yang diperlukan.  “Saya telah mengurus izin usaha Izin Usaha Mikro Kecil (IUMK) melalui aplikasi OSS di DPMPTSP Sragen  beberapa waktu lalu“ katanya ketika menerima Tim Pengawasan dan Pembinaan Perizinandan Nonperizinan DPMPTSP Sragen (Selasa, 18/2/20 ). “ Proses pengajuan izin juga mudah dan tidak berbelit-belit “ tambahnya. (IPP)