Produk Unggulan Sragen

Mebel

Sentra industri furniture di Sragen tersebar di Kecamatan Kalijambe, Gemolong, Miri, Sumberlawang dan Sambungmacan dengan total 1.429 IKM (Industri Kecil Menengah) mencapai yang menyerap tenaga kerja sebanyak 6.615 orang. Sebagian besar IKM tersebut berada di Desa Sambirembe, Karangjati dan Banaran (Kecamatan Kalijambe) serta Desa Kragilan di Kecamatan Gemolong.

Kapasitas produksi setiap pengrajin minimal dua unit mebel perminggu tergantung model dan kerumitan yang dipesan dengan aneka produksi seperti lemari, meja, kursi, dan buffet. Bahan baku berasal dari kayu jati, kayu akasia, kayu mohani, dan kayu hutan yang diperoleh dari Blora, Ngawi, Ciamis, Pacitan dan Wonogiri.

Furniture Sragen telah dipasarkan ke seluruh Indonesia dan bahkan menembus pasar luar negeri, seperti Perancis dan Belanda. Selain itu, sebagai upaya mempermudah kontak bisnis langsung antara perajin dan pembeli, Pemerintah Kabupaten Sragen telah menyediakan suatu kawasan yang dikenal dengan “Zona Industri Mebel Kalijambe” seluas 26 hektar, hasil kejasama dengan ASMINDO KOMDA Solo Raya. Pemerintah Kabupaten Sragen juga membangun Pasar Mebel di Desa Banaran-Kalijambe yang diharapkan dapat membantu perajin untuk mengembangkan usahanya, sebagai bengkel kerja, ruang pamer, sekaligus tempat transaksi dengan pembeli yang banyak berdatangan dari berbagai kota besar di Pulau Jawa.

 

Batik

Sragen memiliki dua sentra batik, yakni Sentra Batik Kliwonan dan Plupuh. Sentra Batik Kliwonan terletak di Kecamatan Masaran, yakni Desa Kliwonan, Pilang, dan Sidodadi. Sedangkan Sentra Batik Plupuh berada di Kecamatan Plupuh yakni Desa Jabung, Gedongan, Sidokerto dan Pungsari.

Jalur menuju sentra batik Kliwonan sangat mudah dan nyaman dilalui. Berjarak ± 17 km sebelah Timur Laut kota Solo atau ± 12 km sebelah Selatan pusat kota Sragen. Sedangkan sentra batik Plupuh berjarak ± 23 km dari pusat kota Sragen.

Potensi batik Sragen cukup besar didukung oleh 135 perusahaan, yang mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 16.453 orang. Jenis batik yang dihasilkan bervariasi seperti batik tulis, cap, cabut, printing dan kombinasi dengan kapasitas produksi mencapai 11.102.000 potong/tahun. Selain belanja batik berkualitas tinggi dengan harga murah, para pengunjung di sini dapat menikmati berbagai aktivitas lain seperti belajar membuat gerabah sawah, memancing di sungai Bengawan Solo, mengenal proses bertani, wisata kuliner makanan khas desa, menjelajah desa, fotografi panorama alam dan festival Desa Batik.

 

Sarung Goyor

Sarung Goyor Sambirembe memang tidak akrab di telinga banyak orang Indonesia. Padahal, sarung tenun produksi Dukuh Wonosari, Desa Sambirembe, Kecamatan Kalijambe, Kabupaten Sragen ini sudah membuat banyak konsumen mancanegara khususnya Somalia, Saudi Arabia dan Timur Tengah menjadi pelanggan tetap. Di wilayah Indonesia sendiri sarung goyor banyak diminati masyarakat Lombok, Bali dan Kalimantan.

Selain di Kalijambe, industri sarung goyor Sragen juga sudah merambah Desa Doyong, Miri, dan tiga desa di Kecamatan Plupuh, yakni Desa Sambirejo, Dari dan Plupuh sehingga total pengrajin sarung Goyor di Sragen berjumlah 622 pengrajin dengan total produksi mencapai 11.950 potong/bulan. Harganya pun bervariasi antara Rp. 250 – 800 ribu per potong menyesuaikan tingkat kerumitan dan waktu pengerjaannya. Produk ini dinamai unik, yakni Tenun Goyor ‘Toldem’, singkatan dari ‘nyantol langsung adem’ karena sifatnya yang dapat menyesuaikan dengan kondisi cuaca, hangat dimusin hujan dan sejuk saat musim panas.

 

Beras Organik

Beras Organik mulai dikembangkan di Sragen sejak tahun 2001 di seluruh kecamatan.  Produktivitasnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Pada tahun 2014 luas tanam padi organik dan semi organik mencapai 16.209 ha dan luas panen 15.975 ha dengan produksi 106.323,73 ton dan produktivitas 66,50 kwintal/ha serta 1.328 kelompok tani. Varietas yang dihasilkan: IR64, Menthik Wangi, Menthik Susu, Merah Thailand dan beras hitam. Wilayah pemasaran meliputi Klaten, Demak, Semarang, Pati, Surabaya dan Jakarta.

Dari luas lahan yang ada, baru 229,57 ha yang memperoleh setifikat organik dari Inofice (Indonesian Organic Farming Certification), yaitu 3 desa di Kecamtan Sambirejo yang dijadikan lokasi pengembangan Wisata Organik Betisrejo, yakni di Desa Sukorejo seluas 134, 38 ha, Desa Jetis seluas 53 ha, dan Desa Jambeyan seluas 42,19 ha. Produksi gabah kering ketiga desa itu rata-rata mencapai 6-8 ton/ha, tiga kali panen per tahun.

Peningkatkan produksi beras organik juga ditunjang oleh pupuk organik yang berkualitas. Para produsen meramu dari kotoran hewan, tetes tebu dan daun-daun pupuk pilihan. Ada 55 kelompok tani penghasil pupuk organik dan 398 produsen dengan produksi mencapai 4.138 ton (pril) dan 11.332 ton (curah) per tahun. Sedangkan pengairan yang baik sepanjang tahun juga turut mendukung seperti adanya 32 mata air yang dimanfaatkan oleh petani di desa Sukorejo.

 

Garut

Garut (Maranta arundinaceae, arrowroot) adalah tanaman sejenis umbi yang sangat bermanfaat bagi kesehatan dan kecantikan. Garut merupakan tanaman musiman yang hanya ada di musim kemarau, yaitu bulan April-September. Umbi Garut dapat dikonsumsi langsung, dibuat emping maupun diolah menjadi tepung sebagai bahan baku aneka kue, roti, mie, kripik, kosmetik maupun obat.

Sentra pengembangan garut terdapat di Kecamatan Gesi, Mondokan, Sumber Lawang, Sukodono, Miri, Tangen dan Jenar. Sedangkan penghasil garut terbesar di Sragen terdapat di Kecamatan Gesi, tepatnya Dukuh Wahyu, Desa Blangu. Disana ada 50 produsen emping dan tepung garut dengan tenaga kerja masing-masing 15-20 orang dan mampu menghasilkan 30 kg/hari emping garut (7 ton/6 bulan) dan 6 kuintal/6 bulan tepung garut.

Pemasaran emping dan tepung garut sebagian besar masih terserap oleh konsumen lokal, namun juga sudah merambah wilayah sekitar Sragen seperti Ngawi, Madiun, Surakarta, Demak, Kudus, Semarang dan Yogyakarta.