Potensi Investasi

    1. Pengembangan KSPN Sangiran

    Penataan kawasan Sangiran menjadi bagian pengembangan Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN) Borobudur dalam mendukung destinasi wisata berbasis budaya di Jawa Tengah dan Yogyakarta. Keberadaan exit tol Gondangrejo mendorong akses pengembangan kawasan wisata di sekitar Kalijambe dimana para wisatawan akan lebih mudah dan cepat menuju Museum Sangiran, Menara pandang, dan empat Klaster yang ada di Sragen, yakni Klaster Bukuran, Manyarejo, Krikilan, Ngebung dan wisata lainnya.

    Dampak exit tol Gondangrejo membuka peluang bagi para investor untuk turut mengembangkan kawasan wisata Sangiran dengan membangun home stay, Amphitheater, wisata tanam padi, camping ground, hutan wisata, playground, river walk dan Purba Tour yang melibatkan komponen masyarakat setempat.

    1. Pengembangan kawasan WKO

    Waduk Kedung Ombo (WKO) merupakan salah satu obyek wisata yang menyuguhkan keindahan bendungan raksasa seluas 6.576 Ha. yang meliputi 37 desa dari 7 Kecamatan yang terletak di daerah Kabupaten Sragen, Boyolali dan Grobogan. Sekitar 50 % luas lahan yang dibebaskan untuk pembangunan Waduk kedung Ombo berada pada wilayah Kabupaten Sragen, dimana 86% tanah tersebut merupakan lahan rakyat.

  1. Rencana Pengembangan Kawasan WKO mengacu pada Rencana Tapak kawasan yang merupakan suatu acuan pengembangan bagi obyek-obyek potensial yang nantinya akan dikembangkan atau ditata sehingga nantinya dapat memiliki kesesuaian dan integrasi antara satu proyek dengan yang lainnya disekitar Kawasan Wisata. Adapun rencana pengembangan kawasan WKO antara lain Kawasan Agropolitan sekitar Cluster Gunung Kemukus dan WKO, Kawsan Agropolitan di Sumberlawang dan Miri, Sub Terminal Agrobisnis yang ditunjang dengan adanya pembangunan Jembatan Barong, ring road Gemolong serta pemukiman terpadu Gemolong.

    Dari rencana pengembagan kawasan WKO tersebut terbuka peluang bagi para investor untuk turut serta dalam pengembangan desa wisata Boyolayar, pembangunan karamba apung, kedai ikan bakar, ruang pertunjukan terbuka, wisata air, playground, dll.

    1. Pengembanan Kawasan Gunung Kemukus

    Rencana pengembangan obyek wisata Gunung Kemukus yang disebut “New Kemukus” dimulai tahun 2020. Berlokasi di Desa Pendem, Kecamatan Sumberlawang dan dilaksanakan secara multi years. Tempat wisata yang menjadi makam Pangeran Samudro dan Dewi Ontrowulan itu akan dijadikan sebagai wisata keluarga dengan berbagai wahana permainan serta wisata air sebagai salah satu daya tariknya. Berbagai fasilitas tersedia seperti taman bunga, circulation track, cafeteria, taman buah dan sayur, pasar souvenir, area bermain, anjungan kapal, kebun binatang, permainan air dan gardu pandang. Pembahasan masterplan dan DED (Detail Engineering Design) Gunung Kemukus akan segera dilakukan.

    Pemerintah Kabupaten Sragen berkolaborasi dengan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, Kementrian PUPR, dan Balai PSDA Serang sebagai pengelola Waduk Kedungombo dalam rencana pengembangan obyek wisata Gunung Kemukus, antara lain kawasan objek wisata religus, perbaikan sarana dan prasarana, promosi dan relokasi warga setempat untuk beralih ke rumah susun.

    1. Pembangunan Pemukiman Terpadu Gemolong

    Kecamatan Gemolong sedang mengalami perkembangan dan pembangunan yang intensive sebagai salah satu Kawasan Perkotaan Gemolong yang menjadikan Gemolong sebagai pusat kota kedua setelah Sragen. Kawasan Perkotaan Gemolong melingkupi enam kecamatan yakni Tanon, Miri, Sumberlawang, Kalijambe, Plupuh serta Gemolong. Berdasarkan aksesibilitasnya, Kecamatan Gemolong mempunyai potensi yang sangat besar untuk menjadi pusat pelayanan di sebelah Utara Bengawan Solo karena kedekatannya dengan  Sragen kota, Kabupaten Boyolali/Salatiga, Grobogan maupun Surakarta, serta karena secara geografis, letaknya berada di perempatan jalur jalan utama Solo – Grobogan dan jalan alternatif utama Sragen – Salatiga/ Semarang.

    Kondisi ini mendorong Gemolong sebagai pemukiman terpadu, ditunjang dengan sektor-sektor basis yang telah dimiliki oleh Kecamatan Gemolong, yakni sektor listrik dan air minum, sektor bangunan/konstruksi, sektor perdagangan, hotel dan restoran, sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan. Tentu saja tumbuhnya suatu pemukiman terpadu harus dibarengi dengan kelengkapan sarana dan prasarana dan standar pemukiman yang mempunyai karakteristik lingkungan sehingga penduduk yang tinggal disana tidak harus ke pusat kota untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Otomatis penyediaan sarana dan prasarana Gemolong sebagai pemukiman terpadu membuka peluang bagi para investor.